DOWNLOAD CONTOH LAPORAN PTS LENGKAP



contoh Penelitian Tindakan Sekolah PTS Maman, S.Pd  
BAB I
PENDAHULUAN

A.        Latar Belakang Masalah
          Tampilan pembelajaran bermutu di sekolah merupakan kewajiban bagi guru secara umum, namun demikian hal ini masih belum dilakukan dengan maksimal oleh guru, dan mereka belum banyak kreatif menggunakan model-model pembelajaran maupun teknik-teknik pendekatan yang baru. Seolah-olah guru hanya menyampaikan materi pelajaran saja, kurang kontrol terhadap kondisi siswa saat pembelajaran berlangsung.
Guru-guru di kelas rata-rata belum memberdayakan strategi gaya dan seni mengajar yang maju. Di Gugus Karyamukti  Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut, berdasarkan hasil supervisi rutin peneliti sebagai Kepala Sekolah di SD Inti Karyamukti 2 ternyata sebagian besar guru masih melaksanakan pembelajaran yang tradisional, di mana guru dalam melaksanakan pembelajaran tanpa menggunakan RPP yang dibuat sendiri, mereka cenderung menggunakan RPP cetakan yang ada dan belum melaksanakan pembelajaran berpusat Kooperatif. Guru masih melaksanakan pembelajaran dengan metode ceramah murni belum rutin bervariasi, maupun belum menggunakan alat peraga, dan tampaknya guru masih sebagai penyampai materi bentuk klasikal, belum banyak melakukan pembelajaran yang kreatif model kooperatif, yang dapat melatih mandiri dan tanggungjawab para peserta didik.
Hal ini dapat dilihat dari hasil supervisi yang telah dilaksanakan oleh peneliti dari sejumlah guru kelas V yang ada di Gugus Karyamukti  Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut sebanyak 8 orang yang tersebar dalam 8 Sekolah Dasar, ternyata rata-rata guru belum mampu melaksanakan pembelajaran berpusat kooperatif secara maksimal. Dari hasil supervisi rutin dapat dilihat secara nyata bahwa guru kelas V masih melaksanakan pembelajaran yang biasa-biasa saja. Pembelajaran yang dilakukan hanya menggunakan metode ceramah tanpa ada variasi dan kurang memanfaatkan peluang, membentuk kelompok-kelompok kecil di kelasnya.
Kegiatan pembelajaran di gugus Karyamukti Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut masih tergolong rendah dan kemampuan guru kelas V dalam mengajar belum berpusat pada model pembelajaran kooperatif secara optimal. Terdapat bukti prestasi para siswa kelas V masih rendah belum sesuai dengan harapan lembaga sekolah orang tua dan masyarakat.
Dalam melaksanakan supervisi, Kepala Sekolah melihat juga aktifitas Kepala Sekolah ternyata, mereka juga belum berupaya mengubah strategi supervisinya terhadap guru-guru di kelas. Supervisi oleh Kepala Sekolah yang dilakukan masih terkesan rutinitas belaka belum melakukan pendekatan-pendekatan baru dan belum melaksanakan tindak lanjut secara serius terutama teknik-teknik model pembelajaran kooperatif.
Dilihat dari frekuensi pelaksanaan supervisi oleh kepala sekolah juga belum optimal. Dari data supervisi dapat dilihat dalam satu bulan supervisi yang dilakukan, tidak lebih dari 10 kali atau 38,4 % sedangkan sisa waktunya sebanyak 61,6 % lebih banyak digunakan untuk melaksanakan tugas di kantor Sekolah atau melaksanakan tugas-tugas lain terkait tugas kepala sekolah. Supervisi yang dilakukan masih terkesan melaksanakan pemantauan saja, seolah-olah hanya melihat dokumen dan hanya memotret keadaan saat terjadi di sekolah tanpa ada tindakan yang nyata menuju perbaikan pembelajaran selanjutnya. Oleh sebab itu di samping pemantauan harusnya juga melalui pengamatan yang cermat dalam proses pembelajaran, sehingga dapat ditemukan hal-hal yang perlu ditingkatkan dan dikembangkan oleh sekolah itu sendiri.
Kondisi ini peneliti sebagai Kepala Sekolah berupaya agar semua guru dalam melaksanakan pembelajaran berpusat dengan model pembelajaran kooperatif, sesuai dengan ketentuan yang ada dalam Standar Proses dalam Permendiknas No 41 tahun 2007. Ketentuan itu merupakan pedoman yang harus diwujudkan dalam proses pembelajaran oleh guru yang merupakan pimpinan di kelas itu. Apabila semua guru dalam melaksanakan tugasnya setiap hari mengajar dengan berpusat kooperatif di kelasnya, maka dapat dikatakan, bahwa hasil dari proses pembelajaran itu akan tercapai memuaskan, yang pada gilirannya akan meningkatkan prestasi belajar para peserta didiknya.
Kemampuan guru dalam melaksanakan model pembelajaran kooperatif melalui supervisi klinis oleh Kepala sekolah, dengan bimbingan arahan kesadaran tinggi diharapkan para guru dapat melakukan pembelajaran bermutu, sehingga mempengaruhi positif terhadap perilaku peserta didik dan menambah kemajuan prestasi belajar mereka.
Kemampuan dan keterampilan para guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Model Kooperatif yang baik, yang selanjutnya proses pembelajaran akan dapat tepat sasaran, dan target materi dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dapat dicapai. Selain itu juga kreatif membentuk kelompok-kelompok kecil dalam pembelajaran yang dapat menumbuhkan motivasi dan semangat belajar anak. Untuk selanjutnya mampu menumbuhkan kreatifitas peserta didik serta berikutnya pembelajaran dapat bermakna. Hal ini akan mewarnai kegiatan belajar dalam meningkatkan prestasinya sehari-hari. Dengan demikian kemampuan dan keterampilan guru perlu dibimbing yaitu mewujudkan model pembelajaran kooperatif yang sesuai dengan visi, misi sekolah yang telah dirumuskan.
Pelaksanaan supervisi yang dilakukan peneliti berupaya mengubah kegiatan mengajar guru yang lebih baik dengan menggunakan instrumen khusus tentang pembelajaran di kelasnya. Maka sasaran supervisi mampu mengubah perilaku guru untuk lebih berkreatif dalam melaksanaan tugas mengajar yang menarik disukai peserta didik. Oleh karena itu proses pembelajaran diharapkan selalu terlaksana dengan menyenangkan, para peserta didik dapat memusatkan perhatiannya untuk belajar bersama teman-temannya.
Peneliti berupaya menambah frekuwensi supervisi klinis dan memaksimalkan pembinaan dan bimbingan serta tindak lanjut. Upaya ingin meningkatkan prestasi dan kemajuan belajar, agar terdapat peningkatan prestasi belajar siswa yang memuaskan. Selain itu peneliti bekerja sama dengan kepala sekolah dalam melaksanakan supervisi klinis tersebut, dengan maksud agar terjalin kolaborasi positif antara guru dan kepala sekolah, yang pada gilirannya kondisi kelas masing-masing dalam sekolah itu dapat nyaman, melaksanakan Pembelajaran Berpusat Kooperatif dengan baik.
Keberhasilan proses pembelajaran dapat ditentukan oleh sering dan tidaknya supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah maupun Kepala sekolah, karena guru akan termotivasi kemampuannya dalam melaksanakan tugas manakala ada respon baik antara kepala sekolah, guru maupun Kepala sekolah. Antara guru, kepala sekolah, dan Kepala sekolah, merupakan komponen utama yang harus memberdayakan diri agar mampu memajukan prestasi belajar peserta didik, maka dalam hal ini peneliti sebagai Kepala sekolah berupaya melakukan supervisi klinis terutama di kelas V.
Dalam penelitian ini ada dua masalah pokok yang akan diteliti yaitu pertama masalah kegiatan guru mengajar berpusat Kooperatif dan yang kedua kemampuan guru dalam menyusun RPP yang sesuai dengan standar proses menurut Permendiknas No 41 tahun 2007. Diharapkan para guru mampu melaksanakan pembelajaran yang berpusat Kooperatif secara maksimal.
Pembelajaran yang berlangsung dengan persiapan yang matang dan pelaksanaan dengan pendekatan Pembelajaran Model Kooperatif, akan berdampak positif terhadap prestasi belajar yang dicapai siswa. Peserta didik akan terpacu dan termotivasi untuk selalu belajar dan memperhatikan gurunya secara kelompok, karena dalam Pembelajaran Kooperatif akan selalu terlihat pemberian dorongan dan penghargaan kepada peserta didik secara merata, dengan demikian mereka diberdayakan agar merasa butuh dan merasa senang dalam melakukan kegiatan belajarnya. Maka guru yang utama adalah perlu ditingkatkan kemampuannya dalam melakukan tugas di kalasnya.
Kegiatan supervisi klinis yang dilakukan Kepala Sekolah sebagai peneliti akan berupaya mempengaruhi guru selalu termotivasi, dan mereka agar selalu merasa sebagai agen pembelajaran yang sesuai dengan ketentuan.
Maka Kepala sekolah sebagai peneliti melakukan supervisi klinis dengan terprogram dan selalu berupaya meningkatkan kemampuan guru untuk melaksanakan pembelajaran dengan tertib dan baik. Apabila supervisi sudah dilaksanakan secara rutin, terprogram dan berkelanjutan sesuai dengan prosedur ketentuan yang ada, maka dapat diharapkan guru lebih mampu untuk melaksanakan pembelajaran Model Kooperatif yang baik berkualitas serta mampu mengubah perilaku peserta didik untuk lebih aktif belajar, yang pada gilirannya mampu mencapai kemajuan prestasi belajar yang lebih baik.
Untuk memecahkan masalah yang ada di Gugus Karyamukti Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut, perlu adanya tindakan khusus yang dilakukan oleh Kepala Sekolah, yaitu : Upaya peningkatan kemampuan guru kelas V Sekolah Dasar dalam pembelajaran berpusat kooperatif melalui supervisi klinis di Gugus Karyamukti Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut Semester I Tahun Pelajaran 2014/2015. Tindakan tersebut dilakukan melalui supervisi klinis secara maksimal dengan tahapan yang pertama yaitu melaksanakan supervisi klinis secara kelompok dan yang kedua melaksanakan supervisi klinis secara individu di dalam kelas masing-masing guru.
Dalam hal ini Kepala Sekolah sebagai peneliti ingin meningkatkan keterampilan dan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran berpusat kooperatif. Termasuk kemampuan Guru dalam penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang matang dengan sarana dan alat peraga yang bervariasi, maupun peralatan dalam proses pembelajaran yang menarik perhatian peserta didik. Pemilikan RPP yang baik bagi guru juga akan mempengaruhi lancarnya penyajian pembelajaran di kelasnya.

B.        Identifikasi Masalah
Berpijak pada latar belakang di atas, identifikasi masalah yang dikemukakan adalah sebagai berikut :
1.        Faktor apa saja yang menyebabkan rendahnya guru dalam melaksanakan model pembelajaran kooperatif ?
2.        Bagaimana upaya agar para guru melaksanakan model pembelajaran kooperatif dengan baik ?
3.        Apa yang harus dilakukan peneliti agar kemampuan guru dalam melaksanakan model pembelajaran kooperatif dapat meningkat ?
C.        Pembatasan Masalah
Dalam penelitian ini masalah yang diteliti adalah tentang kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran model kooperatif yang masih rendah.
Sedangkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran model kooperatif masih rendah, dimaksudkan adalah bahwa para guru kelas V Sekolah Dasar Gugus Karyamukti Kecamatan Cibalong, belum mampu melaksanakan proses pembelajaran yang bermakna bagi siswa, guru melakukan pembelajaran masih cenderung rutinitas, tanpa model-model pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa, belum memanfaatkan alat peraga secara maksimal dan mereka masih bersifat tradisional serta belum menggunakan metode yang bervariasi dan model-model inovatif.
Adapun yang dimaksud dengan supervisi klinis adalah pembinaan khusus kepada guru dalam mengelola proses pembelajaran di kelasnya, maupun kinerja yang diwujudkan setiap harinya, baik secara individu maupun secara kelompok guru dalam melaksanakan tugasnya.
D.        Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
”Apakah melalui supervisi klinis dapat meningkatkan kemampuan guru kelas V SD dengan model pembelajaran kooperatif di Gugus Karyamukti Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut semester I tahun pelajaran 2014/2015 ?”
E.        Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian tindakan sekolah ini adalah ;
Untuk mengetahui besar kemampuan guru kelas V Sekolah Dasar dengan model pembelajaran kooperatif melalui supervisi klinis di Gugus Karyamukti Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut Semester I Tahun Pelajaran 2014/2015.
F.         Manfaat Penelitian
1.         Manfaat bagi guru ;
Dapat meningkatkan kemampuannya untuk melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada Model Pembelajarn Kooperatif.
2.         Manfaat bagi Peneliti ;
Untuk mengetahui faktor penyebab yang mempengaruhi kemampuan guru dalam melakukan pembelajaran berpusat kooperatif, sehingga dapat meningkatkan kemampuan guru itu dalam melaksanakan tugas-tugasnya sehari-hari.
Penelitian perlu dilakukan karena hasilnya memiliki manfaat yang baik terhadap kemajuan pendidikan saat ini maupun saat mendatang. Hal ini khususnya di SD Negeri dalam Gugus Karyamukti Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut.


BAB II
LANDASAN TEORI

A.        Deskripsi Gugus Karyamukti
Gugus Karyamukti adalah gugus sekolah yang merupakan Daerah Binaan peneliti saat ini terdiri dari 8 sekolah yaitu SDN Karyasari 1, SDN Karyamukti 1, SDN Karyamukti 2, SDN Mekarmukti 1, SDN Mekarmukti 2, SDN Sancang 2, SDN Sagara 2, dan SDN Sagara 3. Jumlah guru Kelas V ada 8 orang yang terdiri dari 4 orang orang guru wanita dan 4 orang guru laki-laki. Dengan pertimbangan hasil supervisi klinis yang dilakukan peneliti sebagai Kepala Sekolah SDN Karyamukti 2, maka dalam penelitian ini akan dilakukan tindakan khusus untuk memperbaiki proses pembelajaran model kooperatif bagi guru kelas V SDN dalam wilayah Gugus Karyamukti Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut Semester I Tahun Pelajaran 2014/2015.
B.        Kajian Teori
1.         Kemampuan Melaksanakan Pembelajaran Berpusat Kooperatif.

a.         Hakikat Kemampuan

Seorang guru yang profesional diharapkan memiliki kemampuan dan keterampilan untuk menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sebagai bukti yang harus dijalani dalam melaksanakan pembelajaran sehari-hari di kelasnya.
Proses pembelajaran akan berhasil dengan maksimal manakala diawali dari penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang tepat sesuai Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) dalam jadwal yang telah ditentukan, dan RPP ini disusun oleh guru kelas itu sendiri, merupakan perangkat yang penting dalam sasaran mutu pembelajaran.

Dalam penelitian ini kemampuan yang dimaksud adalah kompetensi atau potensi yang dinyatakan dalam perilaku, yang dimiliki oleh seorang guru untuk menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia WJS. Purwadarminto, bahwa kompetensi berarti kewenangan/kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan sesuatu hal. Istilah kompetensi memiliki banyak makna sebagai mana penjelasan berikut ini ;
Descriptive of qualitative natur or teacher behavior appears to be enti rely meaningful ( Broke and Stone, 1975) bahwa kompetensi merupakan gambaran hakikat kualitatif dari perilaku guru yang tampak dan sangat berarti.
Adapun kompetensi guru ( teacher competensy) the ability of a teacher to responsibility perform has or her duties appropriately, merupakan kemampuan seseorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggungjawab dan layak.

Dari gambaran pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kompetensi merupakan kemampuan dan kewenangan seorang guru dalam melaksanakan profesi keguruannya dan dinyatakan dalam kinerjanya.

b.         Hakikat Pembelajaran

Pelaksanaan pembelajaran merupakan proses inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan yang utama. Peristiwa pembelajaran banyak berakar pada berbagai pandangan dan konsep, oleh karena itu, perwujudan pembelajaran dapat terjadi dalam berbagai model. Menurut Moh. User Usman ( 1995 : 4) dalam bukunya Menjadi guru Profesional, Proses belajar-mengajar adalah suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar dukungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses pembelajaran. Interaksi dalam peristiwa pembelajaran mempunyai arti yang lebih luas, tidak sekedar hubungan antara guru dan siswa, tetapi hubungan yang bersifat interaktif edukatif.

c.          Hakikat Model Pembelajaran Kooperatif

Salah satu model pembelajaran yang dapat bermakna bagi siswa adalah model belajar kelompok kecil yang sering disebut Pembelajaran Kooperatif. Menurut Sugiyanto ( 2010, 37-41 ) dalam bukunya Model-Model Pembelajaran Inovatif bahwa Pembelajaran Kooperatif adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Dalam hal ini guru memberi umpan balik, mengajukan pertanyaan yang menantang dan mengembangkan kegiatan yang beragam, membuat alat bantu belajar sederhana, membuat anak merasa butuh dan memiliki ilmu pengetahuan yang diberikan. Sedangkan dilihat dari sisi siswa dalam pembelajaran, siswa mempunyai keinginan yang aktif bertanya, mengemukakan gagasan, mempertanyakan gagasan orang lain dan gagasan sendiri di kelompoknya. Peserta Didik mampu menguasai ketrampilan tepat waktu, berani mencoba, bertanya, mengemukakan isi hati, dan berani mempertanyakan gagasan, sehingga kondisi diri peserta didik selalu terasa nyaman bekerja sama dengan teman-temannya dengan penuh semangat belajar.
2.         Supervisi Klinis
a.          Hakikat Supervisi
Supervisi dalam pengertian tradisional ialah pekerjaan inspeksi melihat dari atas, mengawasi dalam arti mencari kesalahan dengan tujuan untuk diperbaiki. Perilaku supervisi tradisional ini disebut Snooper Vision, yaitu tugas memata- matai untuk menemukan kesalahan. Dari pengertian ini kemudian berkembang, tentang supervisi yang bersifat ilmiah yaitu : (1) sistematis, dilaksanakan secara teratur, berencana dan secara terus - menerus, (2) obyektif, dalam pengertian ini adalah data yang didapat berdasarkan observasi nyata, bukan berdasarkan tafsiran pribadi, (3) menggunakan instrumen yang dapat memberikan informasi sebagai umpan balik untuk mengadakan penilaian terhadap proses pembelajaran.
Dalam pengertian lain dikatakan supervisi merupakan kegiatan pembinaan pada personil sekolah pada umumnya dan guru pada khususnya, agar kualitas pembelajaran dapat meningkat. Supervisi dalam hal ini dilakukan pada komponen siswa, guru, kurikulum, prasarana pendidikan, pengelolaan dan lingkungan sekolah. Sebagai dampak dari meningkatnya kualitas pembelajaran, maka diharapkan meningkat pula prestasi belajar siswa dan itu berarti meningkat pula kualitas lulusan sekolah itu. ( Arikunto, 2004 ).
Pada penelitian ini supervisi yang dimaksud adalah kegiatan Kepalaan yang dilakukan peneliti dalam memberikan bimbingan teknis terhadap tugas pokok guru dalam melaksanaan Pembelajaran berpusat kooperatif oleh guru kelas V di kelas masing – masing.
b.         Hakikat Supervisi Klinis
Supervisi Klinis diartikan sebagai bentuk pembinaan kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran. ( Sulivan & Glanz, 2005 ).
Tujuan supervisi klinis adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan ketrampilan mengajar guru di kelas. Dalam hubungan ini supervisi klinis merupakan kunci untuk meningkatkan kemampuan profesional guru. Dalam supervisi klinis, akan langsung dirasakan guru dalam kinerjanya yang mana harus diperbaiki serta dikembangkan.
Prosedur supervisi klinis dalam penelitian tindakan sekolah ini berlangsung dalam suatu proses yang berbentuk siklus. Tindakan yang dilakukan ada tiga tahapan, yaitu tahap pertemuan pendahuluan, tahap pengamatan dan tahap pertemuan balikan. Tiga tahapan ini dilaksanakan dengan urut berkelanjutan.
C.        Kerangka Berpikir
Dalam penelitin ini kerangka berfikir peneliti adalah guru sebagai penentu keberhasilan pembelajaraan perlu memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang standar proses pembelajaran dan pedoman pembelajaran berpusat kooperatif yang telah ditentukan agar dalam melaksanakan pembelajaran lebih bermutu. Untuk itu perlu dilakukan pembimbingan yang lebih intensif oleh Kepala Sekolah sekaligus sebagai peneliti.
Supervisi secara individu dari Kepala Sekolah merupakan model pembimbingan yang langsung mengena pada sasaran yaitu mengetahui tingkatan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran. Pada model ini Kepala Sekolah menempatkan diri sebagai teman guru, yang langsung berinteraksi secara interpersonal dalam merencanakan langkah pembelajaran bersama guru. Guru tidak merasa takut kepada Kepala Sekolah, sehingga ia dapat mengemukakan ide-idenya dengan senang hati dan terbuka. Kepala Sekolah aktif memberi contoh dan melakukan simulasi pembelajaran. Guru merasa diperhatikan dan dibantu, sehingga merasa nyaman tersentuh hatinya dalam melaksanakan tugasnya. Akhirnya dalam melaksanakan tugasnya lebih baik, sehingga dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan selanjutnya meningkatkan prestasi siswa.
Atas dasar itu diduga bahwa dengan supervisi klinis oleh peneliti yang dilakukan secara kelompok pada siklus I dan secara individu pada siklus II dapat meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan model kooperatif, sehingga pada gilirannya meningkatkan prestasi belajar siswa.
Proses pembelajaran yang dilakukan guru membuat kondisi kelas yang menarik bagaikan kelas ini sebagai sumber ilmu pengetahuan bagi peserta didik. Harapan yang diinginkan di samping itu guru selalu berinisiatif serius kepada peserta didik dengan cara membentuk dan membagi kelompok-kelompok kecil, sehingga anak-anak akan lebih bersemangat menerima pelajaran yang disampaikan. Evaluasi hasil belajar dapat tercapai bukan saja tinggi nilai angkanya, tetapi lebih dari itu adalah terciptanya sikap perilaku yang menunjukkan prestasi yang benar-benar menjadi harapan masyarakat.




BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.                SETTING  PENELITIAN
Lokasi tempat untuk melakukan penelitian tindakan sekolah ini adalah di Sekolah Dasar Negeri dalam wilayah Gugus Karyamukti Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut. Hal ini dikarenakan Sekolah Dasar dalam Gugus Karyamukti tersebut merupakan sekolah yang berada di daerah binaan peneliti selaku Kepala Sekolah SD Inti.  Sedangkan waktu penelitian  direncanakan pada tanggal 22 Juli sampai 11 November 2015.
      B.                 SUBJEK PENELITIAN
Subyek penelitian adalah guru kelas V Sekolah Dasar dalam wilayah Gugus Karyamukti sebanyak 8 orang guru, yang berdasarkan hasil supervisi rutin, guru-guru tersebut  masih memiliki kemampuan yang rendah belum maksimal  dalam melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kooperatif.








      C.                JADWAL PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH
No
Kegiatan
Rencana Pelaksanaan
1.
Penyusunan proposal
Tgl. 2 s.d.  19  Juli  2015
2.
Penyusunan Instrumen
Tgl. 22 Juli  s.d.  6  Agustus 2015
3.
Pengumpulan data
Tgl.12  Agustus  s.d  30 September  2015
4.
Analisis Data
Tgl. 1 s.d   31  Oktober 2015
5.
Penyusunan laporan
Tgl. 2 s.d  11  November 2015

D.                TINDAKAN
Tindakan yang dilakukan adalah berupa supervisi klinis yang akan dilakukan secara bertahap yaitu ; siklus I supervisi dilakukan menggunakan supervisi klinis secara  kelompok, kemudian siklus II dilakukan supervisi secara individual yang terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan/observasi dan refleksi.
      E.                 TEKNIK  PENGUMPULAN DATA
            Data awal penelitian ini adalah berupa hasil supervisi secara rutin dari peneliti sebagai Kepala Sekolah, serta data akhir diperoleh melalui  observasi, dokumentasi  dan pengisian lembar instrumen penelitian.
      F.                 INSTRUMEN PENELITIAN
Instrumen penelitian berupa lembar observasi dan lembar penilaian, yang  berguna untuk mencatat semua peristiwa pelaksanaan tugas guru dalam pembelajaran selama penelitian berlangsung.
      G.                TEKNIK ANALISIS DATA
Analisis data yang digunakan peneliti dengan menggunakan analisis deskriptif komparatif, yaitu dengan membandingkan pelaksanaan pembelajaran pendekatan kooperatif sebelum dilaksanakan supervisi klinis, dan pembelajaran sesudah dilakukan supervisi klinis.
Selanjutnya dari hasil nilai kemampuan melaksanaan pembelajaran kooperatif sebelum dilaksanakan  supervisi klinis  dibandingkan dengan hasil sesudah dilaksanakan supervisi klinis untuk mengetahui kemajuan hasil yang dicapai dalam tampilan kemampuan kinerja guru di kelasnya.



BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
      A.                KONDISI AWAL ATAU  PRA TINDAKAN
1.                  Kemampuan guru dalam melakukan proses pembelajaran model kooperatif;
Kondisi awal kemampuan guru dalam melakukan proses pembelajaran model kooperatif masih rendah belum maksimal. Adapun sebagai subjek penelitian yaitu guru kelas V Sekolah Dasar dalam wilayah gugus Karyamukti sebagai daerah binaan peneliti di Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut. Dari hasil supervisi yang dilakukan  peneliti, diperoleh data guru-guru tersebut belum memiliki kemampuan maksimal dalam melaksanakan pembelajaran berpusat kooperatif. Dari 8 orang guru yang termasuk kategori kurang hanya 3 orang dan 5 orang lainya masih dalam kategori cukup. Untuk itu peneliti akan melakukan tindakan agar semua guru mampu melaksanakan pembelajaran kooperatif secara maksimal.
Begitu pula supervisi yang dilakukan peneliti belum maksimal, karena itu Kepala Sekolah sebagai peneliti berupaya melakukan tindakan kegiatan. Hal ini tampak dalam tabel 1, bahwa guru berkode A adalah kelompok guru kelas V yang termasuk dalam kategori kurang, sedangkan guru  yang berkode B adalah kelompok  guru kelas V yang masuk kategori cukup, namun masih dalam batas bawah. Rata-rata skor untuk kelompok guru A ( kategori kurang ) dan B  ( kategori cukup ) adalah 48 dan 50 rata-rata keduanya adalah 49 termasuk kategori kurang mampu melaksanakan pembelajaran berpusat kooperatif karena skor maksimal 100, dengan rincian skor 0 s.d 49 termasuk kategori kurang, 50 s.d 75 kategori cukup dan 76 s.d. 100 kategori baik.  ( tampak dalam tabel. 1 ).
Guru melakukan pengelolaan pembelajaran berpusat kooperatif  tampak kurang maksimal. Belum banyak muncul skor 3 atau skor yang terpenuhi, berarti belum ada yang nampak baik. Mereka hanya mengajar menggunakan buku teks yang dimiliki tanpa memperhatikan silabus dan RPP. Metode yang digunakan hanya ceramah tidak bervariasi dan tugas mengerjakan soal saja. Salah satu guru belum menggunakan alat peraga, sedangkan guru yang menggunakan alat peraga tersebut belum maksimal.   Perbaikan dan pengayaan  juga belum dilakukan dengan baik.








Tabel 1 : Data Awal Pembelajaran  Model Kooperatif
Guru Kelas V SD Gugus Karyamukti Kec.Cibalong Kab. Garut
Sebelum Penelitian Tindakan
NO
INDIKATOR
Kel A
(kurang)
Kel B
(cukup)
Rata-rata
I
Metode dan pengelolaan Kelas




1.Pengelolaan siswa bervariasi
2
2
2

2. Kegiatan siswa bervariasi
2
2
2

3.Peran siswa dlm kelompok kecil
2
2
2

4. Kelompok belajar siswa beragam
1
2
1,5
II
Ketrampilan bertanya




5. Guru memberi kesempatan siswa
3
2
2.5

6. Guru mendorong siswa bertanya
2
2
2

7.Siswa berani bertanya
2
2
2
III
Pelayanan individual




8. Ada program pengembangan
1
2
1,5

9. Penyelesaian tugas siswa
3
2
2,5

10.Guru melakukan   tindak lanjut
2
2
2
IV
Sumber belajar dan alat bantu




11. Gutu menggunakan berbagai sumber
1
2
1,5

12. Guru membuat alat bantu
2
2
2

13.Guru trampil mengunakan alat bantu
2
2
2
V
Umpan balik dan penilaian




14.Guru memberi umpan balik menantang
2
2
2

15. Guru menggunakan berbagai penilaian
3
2
2,5

16.Guru memberi penghargaan
1
2
1,5
VI
Komunikasi dan Interaksi




17.Penggunaan bahasa guru
2
2
2

18.Ada komunikasi antara guru dan siswa
2
2
2
VII
Keterlibatan siswa




19. Siswa aktif dlm pembelajaran
2
2
2

20. Guru memberi kesempatan kpd siswa
2
2
2
VIII
Refleksi




21.Guru meminta siswa menulis kesan
2
2
2

22.Guru melakukan refleksi diri
2
2
2
IX
Hasil Karya




23. Hasil karya siswa dipajang
2
2
2
X
Hasil belajar




24.Hasil belajar  memenuhi KKM
1
2
1,5

25.Siswa percaya diri berani tampil 
2
2
2

Jumlah skor
48
50
49

Kategori
Kurang
Cukup
Kurang
Keterangan :
Skor perolehan 0-49  kategori kurang, skor 50-75 kategori cukup, dan skor 76-100 kategori baik.  
2.                   Supervisi  oleh  Kepala Sekolah
Supervisi yang dilakukan peneliti dalam hal ini adalah supervisi klinis yaitu pembinaan atau  pembimbingan untuk pengelolaan pembelajaran yang mengarah pada perbaikan proses pembelajaran. Sebelumnya pembimbingan hanya dilakukan oleh peneliti pada  waktu guru melaksanakan KKG yang diselenggarakan oleh Gugus Sekolah. Dengan demikian pembimbingan yang dilakukan Kepala Sekolah sangat kurang. Dalam KKG Kepala Sekolah melakukan pembinaan bersifat informatif dan secara klasikal, hampir belum pernah Kepala Sekolah melakukan pembimbingan secara individu. Kegiatan KKG tersebut sangat tergantung kepada ketua Gugus Sekolah, dan sudah sewajarnya setiap ada jadwal KKG Kepala Sekolah berperan menghadiri, membimbing secara klasikal di SD Inti.
      B.                 DESKRIPSI  SIKLUS 1
1.                  Perencanaan Tindakan
Beranjak dari proposal yang sudah tersusun, peneliti mempersiapkan materi untuk pembimbingan yaitu Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses dan pedoman pengelolaan pembelajaran berpusat kooperatif dari berbagai sumber. Materi ini diberikan kepada subjek penelitian. Standar Proses berisi aturan-aturan yang harus dilakukan guru dalam proses pembelajaran. Pedoman pengelolaan pembelajaran berpusat kooperatif berisi tentang model-model pembelajaran dan pengelolaan kelas dalam melaksanakan model pembelajaran kooperatif yang harus dilakukan oleh guru. Peneliti melakukan koordinasi dengan Kepala Sekolah dalam wilayah gugus Karyamukti Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut  tentang rencana tindakan pembimbingan dalam Penelitian Tindakan Sekolah ini.
2.                   Pelaksanaan Tindakan
Perlakuan supervisi klinis oleh peneliti terhadap kelompok guru kelas V Sekolah Dasar dalam wilayah gugus Karyamukti  pada hari Selasa tanggal 3 September 2015, setelah pembelajaran usai yaitu pukul 12.15 sampai pukul 14.15 di Sekolah Dasar Negeri Karyamukti 2 yang merupakan SD Inti dalam gugus Karyamukti Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut.  Pelaksanaan supervisi klinis dalam hal ini adalah melakukan  pembinaan dan pembimbingan  secara bersama-sama oleh peneliti terhadap kelompok guru kelas V dalam gugus Karyamukti  sebanyak 8 orang.
Tidakan supervisi klinis yang dilakukan khusus tentang pengelolaan pembelajaran model kooperatif  pada guru kelas V yaitu meliputi : pemahaman isi standar proses, memilih metode dan pengelolaan kelompok siswa di kelas, ketrampilan bertanya, pelayanan individu, sumber belajar dan alat bantu mengajar, umpan balik dan penilaian, komunikasi dan interaksi, keterlibatan siswa, refleksi, hasil karya siswa dan hasil belajar siswa.
Pada akhir kegiatan supervisi klinis ini peneliti melakukan simulasi dengan guru-guru dengan langkah-langkah pembelajaran yang telah disusun bersama. Guru tidak segan-segan untuk bertanya dan mengemukakan pendapatnya kepada peneliti, sehingga ia merasa siap untuk mempraktikkan pembelajaran berpusat kooperatif tersebut satu minggu berikutnya.
Guru menanggapi sangat tertarik, serius, dan santai, yang biasanya Kepala Sekolah datang langsung masuk kelas tanpa memberitahu dan langsung melakukan penilaian, kali ini Kepala Sekolah datang dengan memberi pembinaan dan bimbingan dalam pengelolaan pembelajaran berpusat kooperatif secara rinci.
Mata pelajaran  yang dipilih oleh guru kelas V dalam penelitian ini adalah IPS tentang tokoh Pahlawan Pergerakan Nasional. Peneliti menunjukkan Standar Proses tentang pembelajaran. Guru diberi penjelasan tentang proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Peneliti memberikan pembinaan pembelajaran berpusat kooperatif yang terdiri dari cara pengelolaan siswa yang bervariasi yaitu; secara klasikal, kelompok kecil, berpasangan dan individual. Selain itu anggota  kelompok dibentuk beragam. Guru dalam memberikan pertanyaan berupaya terus, agar dapat memancing siswa, guru juga memberikan motivasi pelayanan individual kepada siswa, termasuk menggunakan berbagai sumber dan alat bantu mengajar, kemudian memberi umpan balik, ada komunikasi, hasil karya  peserta didik dipajang, maupun guru selalu  melakukan refleksi diri.
Guru selalu diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat atau ide-idenya. Setelah kegiatan tersebut puas dan yakin dapat melaksanakan dengan baik, maka membuat kesepakatan waktu untuk pelaksanaan pembelajaran  berpusat kooperatif tersebut yang diawali dari penyusunan RPP yang baik. Hasil kesepakatan antara guru-guru dengan peneliti bahwa, RPP dilaksanakan pada tanggal 9 sampai dengan tanggal 14  September  2015 untuk semua  guru kelas V dalam gugus Karyamukti Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut secara bergilir di kelas masing-masing.
3.                   Hasil Pengamatan
Pengamatan yang dilakukan melalui dua hal, yaitu pengamatan yang dilakukan peneliti terhadap guru dalam melakukan proses pembelajaran dan pengamatan oleh teman sejawat  terhadap peneliti dalam melakukan proses  tindakan pembimbingan ini.
Pada hari Senin  tanggal 9 September  2015  peneliti bersama teman sejawat  mengamati proses pembelajaran guru kelas V SDN Karyamukti 2, SDN Karyasari 1 dan SDN Karyamukti 1, pada hari Selasa tanggal 10 September 2015 di SDN Mekarmukti 1, SDN Mekarmukti 2, pada hari Rabu tanggal 11 September 2015 di SDN Sancang 2 dan SDN Sagara 2 dan pada hari Kamis tanggal 12 September 2015 di SDN Sagara 3.  Secara umum proses pembelajaran yang dilakukan untuk mata pelajaran IPS tentang Tokoh Pergerakan Nasional.  Guru melakukan proses pembelajaran menggunakan metode yang telah dipelajari yaitu Bermain Peran. Siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok kecil untuk memerankan tokoh yang telah disepakati bersama. Secara berkelompok siswa berdiskusi membahas masing–masing perannya. Kegiatan menyenangkan, sudah muncul eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Dalam kegiatan eksplorasi, guru melibatkan peserta didik mencari informasi tentang sejarah, memfasilitasi terjadinya interaksi antar peserta didik serta antara peserta didik dengan guru, melibatkan peserta didik secara aktif. Proses elaborasi dilakukan dengan memberi tugas peserta didik  untuk berani tampil di depan kelas dan memiliki rasa percaya diri serta tidak takut salah ingin melatih keberanian. Pada kegiatan konfirmasi, guru memberikan konfirmasi terhadap tampilan tiap kelompok kecil yang berisi penghargaan berupa pujian kepada kelompok yang sudah melaksanakan tugas tersebut. Guru memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman dalam mencapai kompetensi dasar.
Hasil pengamatan yang dilakukan peneliti dan teman sejawat terhadap mutu pembelajaran guru kelas V SDN dalam gugus Karyamukti dapat dilihat   pada kegiatan siklus 1, dan  dapat dilihat pada tabel 2  dapat diketahui bahwa skor mutu pembelajaran guru kelas V yang termasuk kelompok A adalah 66,5 sedangkan guru kelas V yang termasuk kelompok B adalah 67,5 dan rata-ratanya adalah  67 termasuk masih dalam kategori cukup  ( kurang memuaskan). Tampak dalam tabel 2 sebagai berikut ;
Tabel 2
Hasil Rata-rata Pengamatan Proses Pembelajaran Kooperatif Guru Kelas V
 Di Gugus Karyamukti  pada Akhir Siklus 1

No
Pengamat
Skor Mutu Pembelajaran
Rata-rata AB
Kelompok A
Ra ta 2
Kelompok  B
Ra
ta 2
1
2
3


1
2
3
4
5

1
Peneliti
66
67
64


65
67
68
69
70
67

68
66,5
2
Teman sejawat
68
67
68


68
68
66
69
66
67

67
67,5

Rata-Rata

66,5

67,5
67
Sedangkan hasil pengamatan pelaksanaan tindakan pembimbingan dapat dilihat pada tabel 3 teman sejawat mengamati tindakan peneliti dalam membimbing dengan partisipasi aktif.
Tabel 3
Hasil  Rata-rata Pengamatan Proses Pembimbingan secara individu
Pada Akhir Siklus 1
No
Pengamat
Skor Pembimbingan untuk
Ket
Kel. A
Kel.  B
Rata-rata
1
Teman sejawat
17
19
18

      Keterangan: Skor data  pembimbinga dari 0–10  kurang maksimal, 11–20   cukup dan 21-30  maksimal.
                  Terlihat bahwa skor pembimbingan untuk guru kelas V dalam wilayah gugus Karyamukti untuk kelompok A ( kurang ) dan kelompok B
( cukup)  adalah 17 dan 19 sehingga rata-rata 18 atau masih dalam kategori cukup dan belum maksimal. Masih ada beberapa butir indikator yang belum tampak optiimal, bahkan ada yang sama sekali tidak muncul, misalnya mengemukakan tujuan, pembimbingan pada evaluasi pembelajaran, penggunaan multi metode dan multi media, maupun memunculkan ide-ide atau gagasan guru.
4.                   Refleksi
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan pada siklus 1, dan  untuk mengetahui apakah kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran meningkat, maka hasil pengamatan pada akhir siklus 1 dibandingkan dengan data awal. Data awal untuk kelompok A rata-rata 48 dan kelompok B rata- rata 50 , maka rata-rata seluruh adalah  49 ( kategori kurang ). Pada siklus 1 diperoleh data rata-rata untuk kelompok A adalah 66,5 dan untuk kelompok B adalah 67,5 maka rata-rata 67.  Data ini tampak dalam tabel  4 dan dalam gambar / diagram 2 di bawah ini.
Tabel 4
Rata-rata Data Awal dan Akhir Siklus 1
No
Data Penelitian
Data Awal
Siklus 1
Kenaikan
Prosentase Kenaikan
1
Mutu Pembelajaran
49
67
18
36,7  %
2
Pembimbingan
0
18
18
60 % .
                        Keterangan: Skor  maksimal mutu pembelajaran 100 dan pembimbingan 30.

Gambar 2
Diagram Rata-rata Data Awal dan Akhir Siklus 1
Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa mutu proses pembelajaran mengalami kenaikan 18 skor  atau 36,7 % dan pelaksanaan pembimbingan mencapai skor 18 atau 60 %. Pada proses pembelajaran sebagian besar masih belum tampak pada proses elaborasi dan konfirmasi, serta nuansa pembelajaran kooperatif belum maksimal. Sedangkan untuk pembimbingan masih ada yang belum nampak antara lain ; penyampaian tujuan pembimbingan, pembimbingan pada evaluasi pembelajaran, penggunaan multi metode, memunculkan ide-ide guru, dan masih menggurui guru. Berdasarkan hasil siklus 1 tersebut, maka pembimbingan akan dilakukan lagi dengan memenuhi semua indikator pembimbingan, dengan harapan mutu pembelajaran juga akan meningkat.




C.                DESKRIPSI  SIKLUS II
1.                   Perencanaan Tindakan
Setelah melakukan refleksi antara peneliti dengan kolaborator, maka peneliti merencanakan tindakan pada siklus ke 2. Peneliti melakukan koordinasi dengan Kepala Sekolah dalam wilayah Gugus Karyamukti untuk menentukan tindakan pembimbingan pada siklus 2. Disepakati akan dilakukan pembimbingan secara individu kepada setiap guru sesuai dengan masalah yang dihadapi. Pelaksanaan mulai hari Rabu tanggal 2 Oktober sampai dengan hari Kamis 10  Oktober  2015. Peneliti menyiapkan materi dan instrumen observasi pembimbingan dan observasi pembelajaran.
2.                   Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan  supervisi klinis atau pembimbingan tentang perbaikan proses pembelajaran  ke arah pembelajaran berpusat kooperatif oleh   peneliti  terhadap guru kelas V SDN se Gugus Karyamukti   dilakukan secara individual dengan mempertimbangkan kelemahan yang ada pada tiap guru tersebut. Hal ini   dilakukan mulai  hari Jum’at  tanggal 2 Oktober sampai dengan hari Sabtu tanggal 10 Oktober 2015 secara bergilir.  Dengan diamati oleh teman sejawat, peneliti menyampaikan tujuan pembimbingan. Pembimbingan dengan mengkaji RPP secara bersama yang telah dimiliki, disesuaikan dengan standar proses,  dan pedoman model pembelajaran Kooperatif  yang di dalamnya terdapat penentuan alat peraga, metode, langkah-langkah pembelajaran, dan evaluasi hasil belajar, refleksi , tindak lanjut maupun pencapaian KKM yang dirumuskan.
Materi yang akan dipraktikkan pada siklus 2  adalah tentang kegiatan pembelajaran IPS : Tokoh Pahlawan Pergerakan Nasional, kemudian guru mengemukakan ide-ide melakukan simulasi pembelajaran. Guru terlihat gembira, dan merasa percaya diri dalam melakukan pembelajaran, kemudian menyusun langkah-langkah pembelajaran yang berisi eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi serta penjelasannya.
 Mulai hari Jum’at  tanggal 2 Oktober sampai hari Sabtu tanggal 10 Oktober 2015 tersebut, peneliti dan teman sejawat  melakukan pengamatan terhadap guru kelas V secara bergilir  dalam pembelajaran berpusat kooperatif. Masing-masing guru kelas V menyiapkan RPP hasil revisi di mejanya, beserta alat peraga yang digunakan. Dalam kondisi ini guru-guru terlihat lebih semangat, sehingga tertarik dengan alat-alat yang disediakan di atas meja, kemudian Guru mulai melakukan pembelajaran.
Peneliti dan teman sejawat  duduk di kelas paling belakang dengan sikap tenang, serius sambil mengamati proses pembelajaran kooperatif. Siswa tampak  gembira dan aktif di kelompoknya mengikuti pembelajaran yang berlangsung.
3.                   Hasil Pengamatan
Ringkasan hasil pengamatan proses pembelajaran guru kelas V SD se Gugus Karyamukti pada siklus 2  dapat dilihat pada tabel  5. Rata-rata skor hasil pengamatan untuk kelompok A adalah 76,5, sedangkan rata-rata pengamatan untuk kelompok B adalah 79,5, Rata-rata total menjadi 78 atau masuk dalam kategori baik atau mampu melaksanakan pembelajaran berpusat kooperatif. Selengkapnya dapat dilihat pada lampiran. Hal yang belum muncul adalah penerapan teknologi informasi, dan melakukan pameran.
Tabel 5
Hasil Pengamatan Proses Pembelajaran Guru Kelas V  
Se Gugus Karyamukti pada Akhir Siklus 2

No
Pengamat
Skor Mutu Pembelajaran
Rata-rata AB
Kelompok A
Ra ta 2
Kelompok B
Ra
ta 2
1
2
3


1
2
3
4
5

1
Peneliti
75
77
78


77
80
81
79
82
79

80
78.5
2
Teman sejawat
75
76
76


76
78
80
79
80
79

79
77,5

Rata-Rata

76,5

79,5
78

Keterangan:  skor data mutu pembelajaran maksimal adalah 100
Data pembimbingan siklus 2 dapat dilihat pada tabel 6 berikut. Hasil pengamatan teman sejawat terhadap peneliti dalam melakukan pembimbingan adalah 29 untuk semua guru. Atau sudah nampak maksimal karena mendekati skor 30.
Tabel 6
Hasil Pengamatan Proses Pembimbingan secara individu
Pada Akhir Siklus 2
No
Pengamat
Skor Pembimbingan untuk
Ket
Kel A
Kel B
Rata-rata
1
Teman sejawat
29
29
29

            Keterangan: Skor data maksimal pembimbingan adalah 30
4.             Refleksi
Berdasarkan skor siklus 2, maka dapat dilihat peningkatan dari  siklus 1 sampai siklus 2 ( tampak dalam tabel 7 dan diagram/gambar 3 ). Peningkatan mutu pembelajaran adalah naik 11 skor atau 16,4 %, sedangkan keberhasilan proses pembimbingan adalah naik 11 atau 36 %.
Tabel 7
Rata-rata Data Akhir siklus 1 dan Akhir Siklus 2
No
Data Penelitian
Siklus 1
Siklus 2
Kenaikan
Prosentase Kenaikan
1
Mutu Pembelajaran
67
78
11
22,3 %
2
Pembimbingan
18
29
11
36 %
Keterangan : Skor  maksimal mutu pembelajaran 100 dan pembimbingan 30
Gambar 3
 Diagram rata-rata data Akhir siklus 1 dan Akhir Siklus 2
D.                PEMBAHASAN DAN DISKUSI
Berdasarkan hasil tindakan pada siklus 1 dan 2 di atas dapat dirangkum ke dalam tabel 8 yaitu dari data awal, siklus 1, dan siklus 2. Pada mutu pembelajaran terjadi peningkatan dari data awal sampai akhir siklus 2 adalah 29 atau 59 %. Data pembimbingan dari awal sampai siklus 2 adalah 29  atau 96%.
Tabel 8
Rata-rata data awal, Akhir Siklus 1 dan Akhir Siklus 2
No
Data Penelitian
Data Awal
Siklus 1
Siklus 2
Total Kenaikan
Prosentase Kenaikan
1
Mutu Pembelajaran
49
67
78
29
59 %.
2
Pembimbingan
0
18
29
29
96 %
Gambar 4
Diagram rata-rata data awal, Akhir Siklus 1 dan Akhir Siklus 2
Berdasarkan tabel tersebut dapat dilakukan pembahasan bahwa Penelitian Tindakan Sekolah tentang meningkatkan mutu pembelajaran berpusat kooperatif  melalui supervisi klinis  secara kelompok dan individu oleh peneliti terhadap guru kelas V se Gugus Karyamukti  dapat dikatakan berhasil karena terjadi peningkatan skor pada mutu pembelajaran dan skor pembimbingan. Hal ini lebih terlihat jelas pada diagram 4. Walaupun masih belum sempurna, namun sudah mendekati pada skor maksimal dalam arti ada peningkatan yang memuaskan.
Indikator keberhasilan dari tindakan tersebut tidak hanya naiknya skor pengamatan, tetapi juga diikuti kesesuaian indikator keberhasilan yaitu:
1.             Pembimbingan secara kelompok dan individu dilakukan secara intensif oleh Kepala Sekolah, sehingga guru tidak merasa malu jika mengalami kesalahan.
2.             Guru menyusun RPP sendiri dengan bimbingan Kepala Sekolah.
3.             Kepala Sekolah memberi bimbingan pembelajaran tampak pada siklus ke 2, kemudian Kepala Sekolah sebagai peneliti dalam membimbing guru ini telah memberikan contoh pembelajaran yang baik sesuai harapan.
4.             Kepala Sekolah menjelaskan isi standar proses dan cara pengelolaan model pembelajaran kooperatif dengan memasukan dalam kegiatan inti, dan hal ini telah dilakukan dalam pembimbingan.
5.             Frekuensi pembimbingan dilakukan lebih sering, teratur, dan lebih terasa adanya perubahan, karena dilakukan sendiri oleh Kepala. Hal ini terbukti bahwa guru kelas V se Gugus Karyamukti Kecamatan Cibalong masing-masing dibimbing sebanyak 2 siklus dan tiap siklus 3 pertemuan, sangat tergantung pada peneliti, dan merasakan perubahan dirinya dalam perbaikan pembelajaran kooperatif yang dilakukan.

E.                HASIL TINDAKAN
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa tindakan pembimbingan secara kelompok kecil dan individu, peneliti berhasil meningkatkan mutu proses pembelajaran. Bukti keberhasilan tersebut adalah bahwa mutu proses pembelajaran yang dilakukan guru kelas V se Gugus Karyamukti dari kondisi awal sebelum siklus : 1  ke kondisi akhir siklus : 2 terdapat peningkatan dari skor  49 menjadi 67 pada siklus 1, dan 78 pada siklus 2. Total kenaikan sebesar 29. Proses pembimbingan dengan partisipasi aktif Kepala Sekolah dari kondisi awal belum dilaksanakan ( 0 ), menjadi dilaksanakan dengan skor keberhasilan 18 pada siklus 1 dan 29 pada siklus 2, sehingga total kenaikan 29. Kenaikan skor mutu pembelajaran ini merupakan hasil dari proses pembimbingan secara individu oleh peneliti.
Dengan demikian hipotesis tindakan yang berbunyi supervisi klinis dapat meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran model kooperatif  bagi guru kelas V se gugus Karyamukti Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut, telah terbukti benar. Dengan kata lain kemampuan melaksanakan pembelajaran model kooperatif dapat ditingkatkan melalui supervisi klinis  oleh  Kepala Sekolah sebagai peneliti, dan sekaligus sebagai wilayah binaan gugus.









BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.                SIMPULAN
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan maka, pada bab V ini dapat disimpulkan bahwa Penelitian Tindakan Sekolah yang berjudul: “Upaya Peningkatan  Kemampuan Guru kelas V Sekolah Dasar Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Melalui Supervisi Klinis di Gugus Karyamukti Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut Semester I Tahun Pelajaran  2014 /2015 ”  ternyata dapat terbukti kebenarannya.
Hal ini dibuktikan dengan naiknya skor hasil kegiatan pembelajaran dari 49 menjadi 67 pada siklus 1, dan 78  pada siklus 2. Total kenaikan sebesar 59 %. Proses  supervisi klinis atau dalam hal ini pembimbingan dengan partisipasi aktif Kepala Sekolah sebagai peneliti, dari kondisi awal belum dilaksanakan semula  0 menjadi dilaksanakan dengan skor keberhasilan 18  pada siklus 1, dan keberhasilan 29  pada siklus 2, sehingga total kenaikan keberhasilan  96%.
Selain kenaikan skor data pengamatan di atas, keberhasilan tindakan juga dibuktikan dengan tampaknya indikator keberhasilan sebagai berikut ;
1.             Pembimbingan kelompok kecil dan individu dilakukan secara serius menarik.
2.             Guru melaksanakan pembelajaran model kooperatif dengan bimbingan Kepala Sekolah sebagai peneliti.
3.             Kepala Sekolah banyak memberi contoh pembelajaran yang menarik hati.
4.             Kepala Sekolah menjelaskan isi standar proses dan pengelolaan pembelajaran model kooperatif serta teknis memasukannya dalam kegiatan         inti proses pembelajaran.
5.             Pelaksanaan pembimbingan dilakukan secara teratur, karena dilakukan sendiri oleh Kepala Sekolah sebagai peneliti di Dabin Gugus Sekolah ini.
B.                SARAN
1.       Kepada rekan-rekan Kepala Sekolah, agar dalam melakukan pembinaan terhadap guru di daerah binaannya dapat menggunakan langkah-langkah penelitian ini. Teknik supervisi dilakukan bervariasi menurut kondisi guru, sehingga mudah mencapai hasil pembelajaran yang lebih baik. Perlu  juga diubah pelaksanaan supervisi yang diartikan tidak hanya menilai guru secara langsung di dalam kelas, tetapi lebih dari itu, adalah meningkatkan kemampuan guru dalam penerapan model pembelajaran kooperatif. Sehingga dengan pendekatan ini, guru dalam melakukan pembelajaran merasa perlu dan penting untuk meningkatkan prestasi yang lebih baik. Pembimbingan yang sungguh-sungguh sudah selayaknya merupakan kewajiban tugas-tugas pokok dan fungsi Kepala Sekolah, sehingga mampu mencapai hasil sesuai dengan harapan.
2.        Kepada para Kepala Sekolah, agar cara pembinaan tersebut dapat diterapkan dalam membina guru-guru, sehingga seorang guru akan merasa senang, nyaman melaksanakan model-model pembelajaran di kelasnya, seperti model kelompok kecil yang sangat menyentuh anak dalam belajarnya, sehingga pada gilirannya, guru mampu meningkatkan mutu diri yang selanjutnya secara profesional meningkatkan prestasi belajar para siswanya dan dapat meningkatkan mutu pendidikan pada umumnya sesuai dengan harapan orang tua, masyarakat dan bangsa Indonesia tercinta ini.




DAFTAR PUSTAKA

Dirjen PMPTK. 2010 . Penelitian Tindakan Sekolah, Jakarta : Kemendiknas.
------------------, 2010 . Supervisi Akademik, Jakarta : Kemendiknas.
Moh. User Usman, 1995 . Menjadi guru professional. Jakarta :  
------------------,  2007 . Permendiknas No 41/ 2007 . Jakarta : Kemendiknas.
Purwodarminto, WJS. Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka.
Saifudin,  2007 . Metode Penelitian , Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Suharsimi Arikunto,  2004 . Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineksa Cipta.
Sugiyanto, 2010. Model-model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Yuma Pressindo.

Selengkapnya Silahkan Download Gratis pada link di bawah ini.


COVER PTS >>> DISINI
LEMBAR PENGESAHAN PTS >>> DISINI
LAPORAN PTS >>> DISINI
CONTOH PROSENTASE SIKLUS PTS >>> DISINI
CONTOH LAPORAN PTS BAB 1, 2, 3 SMP EDITEUN >>> DISINI
CONTOH LAPORAN PTS LAINNYA >>> DISINI

FOLDER CONTOH PTS LENGKAP >>> DISINI

Semoga bermanfaat. Amin

Lebih baik bagikan dulu sebelum di download

Baca juga Artikel Penting Lainnya


Demikanlah artikel dan file yang kami bagikan ini, semoga dapat menjadi referensi dalam memudahkan pekerjaan Ibu dan Bapak Guru. Berikanlah komentar yang relevan demi perbaikan blog ini, agar dunia pendidikan kita lebih baik sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

0 Response to "DOWNLOAD CONTOH LAPORAN PTS LENGKAP "

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung